KLAIM KEBENARAN
AGAMA
Oleh:
Mahful Muis, MA
Tradisi
Dialog
Dialog
agama-agama bukanlah hal baru dalam peradaban manusia, karena dialog adalah
sesuatu yang terhindarkan dari pluralitas yang sudah menjadi tradisi Tuhan yang
bersifat abadi dan kemestian sejarah perubahan cara pandang dan metode manusia
dalam menyikapi pluralitas itu seiring dengan perkembangan zaman, khususnya
dalam hal keagamaan. Setiap rasul diutus oleh Tuhan dalam/ pada konteks
kesejarahan dan kondisi sosial keagamaan yang pluralistik, sehingga relasi dan
dialog/trialog antar agama dalam tradisi millah Ibrahim ( yang hari ini diubah
menjadi Yahudi, Kristen, dan Islam ) bukanlah fenomena baru karena sudah
berlangsung sejak awal kenabian. Secara internal, dialog/trialog antar
ketiganya dapat dipahami karena ketiganya tidak hanya memiliki titik temu
teologis dan hukum sebagai bagian inti dari ajaran agama, tetapi juga karena
ketiganya berasal dari tradisi dan leluhur yang sama.
Para
rasul dalam mewartakan risalah-Nya juga senantiasa mengajak umat agama lainya
berdialog. Al-kitab Perjanjian Baru misalnya, banyak mengkisahkan bagaimana
Yesus sering berdialog dengan murid-murid Yohanes Pembaptis, para Imam Kepala,
dan kaum Yahudi dari kaum kaum Farisi dan kaum Saduki. Begitu pula dengan Muhammad,
yang secara teologis dan historis tidak terlepas dari misi risalah sebelumnya.
Al-Qur’an bahkan menempatkan kaum Yahudi dan Nasrani sebagai ahlu al-kitab yang harus dihormati dan
selalu mengajak mereka melakukan dialog (mujadalah)
dengan cara dan argumentasi terbaik. Namun demikian, sepanjang perjalanan
sejarah, hubungan yang baik itu malah kerap kali telah menjadi sumber berbagai
kesalah-pahaman, ketidak percayaan, kebencian dan sengketa teologis yang tak
berujung. Selain itu, klaim kebenaran (truth
claim) bahwa agamaku atau agama kami adalah agama terbenar dan satu-satunya
agama keselamatan (salvation claim)
yang sejati sebagai ekspresi dari keyakinan spiritual, memunculkan fanatisme
agama yang negatif. Tak jarang mereka yang sekalipun sering melakukan kejahatan
atau berbuat maksiat akan bankit “membela agama” jika merasa agamanya
dilecehkan.
Secara
sosiologis, truth claim dan salvation claim tersebut dapat
menimbulkan berbagai konflik sosial-politik yang hingga kini masih menjadi
fenomena di abad modern ini. Sikap fanatisme itu sendiri, bukan ditandai oleh
tidak adanya kesepakatan, melainkan oleh tidak adanya penghargaan dan toleransi
terhadap teologi lainnya. Penyakit spiritual ini yang menyuburkan kebencian
tersebut sebagai buah dari sikap interaksi superior-inferior
yang membentengi diri sembari memproklamirkan agama mereka sebagai satu-satunya
agama yang dapat diterima dan satu-satunya jalan menuju keselamatan. Akibatnya,
kebenaran mutlak firman Tuhan dikaburkan oleh perilaku klaim absolutisme dan penafsiran
subjektif para ahli agama.
Kajian
tentang relasi Yahudi, Kristen, dan Islam selalu menarik perhatian dunia dewasa
ini, khususnya dalam melakukan dialog/trialog teologis-normatif antar-generasi
Ibrahim demi mewujudkan perdamaian dunia (word
peace). Sebab, berbicara tentang Yahudi, Kristen dan Islam, berarti juga
berbicara soal mayoritas ummat manusia di dunia, tidak terkecuali Indonesia.
Secara doktrinal, dalam tradisi Yahudi, Abraham (Abram: Ibrahim) adalah
penerima perjanjian (kovenan) asli antara
orang-orang Ibrani dengan Elohim
(YHWH: Yahweh). Dalam tradisi Kristen, Abraham adalah pattriark terkemuka dan
penerima suatu perjanjian normatif yang orsinil dengan Allah yang selanjutnya
disarikan sebagai kovenan mosaik,
sedangkan kovenan kedua diyakini
telah dibuat oleh Yesus Kristus. Sedangkan dalam tradisi Islam, Nabi Ibrahim
adalah sosok teladan dari seorang pewarta wahyu yang memiliki akidah yang tak
tergoyahkan oleh apapun dan siapapun, termasuk oleh keluarga dan bangsanya,
serta sosok monoteis sejati yang kokoh (muslim
hanif), serta pembawa millah
Ibrahim yang diamanatkan Allah untuk diajarkan kepada keturunannya dan segenap
ummat manusia.
Untuk
merespon realitas ummat beragama tersebut, dalam dua dekade terakhir ini seruan
tentang dialog antar-agama atau antar-iman (inter-faith
dialogue) amat intens dikampanyekan, bukan hanya untuk sekedar menjembatani
titik temu dan titik beda dari masing-masing agama, tetapi juga adanya tawaran
kultural yang produktif dan konskruktif untuk melakukan pengembaraan
intelektual dan spiritual memasuki pelataran agama lain. Bahkan mendialogkan
hal-hal yang masuk dalam zona sakral dari doktrin agama masing-masing. Meski
demikian, seruan dialog tersebut masih melahirkan pro (karena hal itu
merupakan keniscayaan historis) dan kontra (karena dikuatirkanakan dapat
melemahkan iman serta wibawa doktrin agama masing-masing).
Seseorang
atau skelompok orang yang memiliki spirit seperti inilah yang bersedia untuk
lebih jauh memikirkan sesuatu yang tak terpikirkan (unthinkable things) oleh mainstream
kaum agama selama ini, sehingga sangat dimaklumi jika buah pikirnya akan
disambut PRO dan KONTRA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar