Senin, 18 Maret 2013

KLAIM KEBENARAN AGAMA

KLAIM KEBENARAN AGAMA
Oleh: Mahful Muis, MA


Tradisi Dialog

        Dialog agama-agama bukanlah hal baru dalam peradaban manusia, karena dialog adalah sesuatu yang terhindarkan dari pluralitas yang sudah menjadi tradisi Tuhan yang bersifat abadi dan kemestian sejarah perubahan cara pandang dan metode manusia dalam menyikapi pluralitas itu seiring dengan perkembangan zaman, khususnya dalam hal keagamaan. Setiap rasul diutus oleh Tuhan dalam/ pada konteks kesejarahan dan kondisi sosial keagamaan yang pluralistik, sehingga relasi dan dialog/trialog antar agama dalam tradisi millah Ibrahim ( yang hari ini diubah menjadi Yahudi, Kristen, dan Islam ) bukanlah fenomena baru karena sudah berlangsung sejak awal kenabian. Secara internal, dialog/trialog antar ketiganya dapat dipahami karena ketiganya tidak hanya memiliki titik temu teologis dan hukum sebagai bagian inti dari ajaran agama, tetapi juga karena ketiganya berasal dari tradisi dan leluhur yang sama.

        Para rasul dalam mewartakan risalah-Nya juga senantiasa mengajak umat agama lainya berdialog. Al-kitab Perjanjian Baru misalnya, banyak mengkisahkan bagaimana Yesus sering berdialog dengan murid-murid Yohanes Pembaptis, para Imam Kepala, dan kaum Yahudi dari kaum kaum Farisi dan kaum Saduki. Begitu pula dengan Muhammad, yang secara teologis dan historis tidak terlepas dari misi risalah sebelumnya. Al-Qur’an bahkan menempatkan kaum Yahudi dan Nasrani sebagai ahlu al-kitab yang harus dihormati dan selalu mengajak mereka melakukan dialog (mujadalah) dengan cara dan argumentasi terbaik. Namun demikian, sepanjang perjalanan sejarah, hubungan yang baik itu malah kerap kali telah menjadi sumber berbagai kesalah-pahaman, ketidak percayaan, kebencian dan sengketa teologis yang tak berujung. Selain itu, klaim kebenaran (truth claim) bahwa agamaku atau agama kami adalah agama terbenar dan satu-satunya agama keselamatan (salvation claim) yang sejati sebagai ekspresi dari keyakinan spiritual, memunculkan fanatisme agama yang negatif. Tak jarang mereka yang sekalipun sering melakukan kejahatan atau berbuat maksiat akan bankit “membela agama” jika merasa agamanya dilecehkan.

        Secara sosiologis, truth claim dan salvation claim tersebut dapat menimbulkan berbagai konflik sosial-politik yang hingga kini masih menjadi fenomena di abad modern ini. Sikap fanatisme itu sendiri, bukan ditandai oleh tidak adanya kesepakatan, melainkan oleh tidak adanya penghargaan dan toleransi terhadap teologi lainnya. Penyakit spiritual ini yang menyuburkan kebencian tersebut sebagai buah dari sikap interaksi superior-inferior yang membentengi diri sembari memproklamirkan agama mereka sebagai satu-satunya agama yang dapat diterima dan satu-satunya jalan menuju keselamatan. Akibatnya, kebenaran mutlak firman Tuhan dikaburkan oleh perilaku klaim absolutisme dan penafsiran subjektif para ahli agama.

        Kajian tentang relasi Yahudi, Kristen, dan Islam selalu menarik perhatian dunia dewasa ini, khususnya dalam melakukan dialog/trialog teologis-normatif antar-generasi Ibrahim demi mewujudkan perdamaian dunia (word peace). Sebab, berbicara tentang Yahudi, Kristen dan Islam, berarti juga berbicara soal mayoritas ummat manusia di dunia, tidak terkecuali Indonesia. Secara doktrinal, dalam tradisi Yahudi, Abraham (Abram: Ibrahim) adalah penerima perjanjian (kovenan) asli antara orang-orang Ibrani dengan Elohim (YHWH: Yahweh). Dalam tradisi Kristen, Abraham adalah pattriark terkemuka dan penerima suatu perjanjian normatif yang orsinil dengan Allah yang selanjutnya disarikan sebagai kovenan mosaik, sedangkan kovenan kedua diyakini telah dibuat oleh Yesus Kristus. Sedangkan dalam tradisi Islam, Nabi Ibrahim adalah sosok teladan dari seorang pewarta wahyu yang memiliki akidah yang tak tergoyahkan oleh apapun dan siapapun, termasuk oleh keluarga dan bangsanya, serta sosok monoteis sejati yang kokoh (muslim hanif), serta pembawa millah Ibrahim yang diamanatkan Allah untuk diajarkan kepada keturunannya dan segenap ummat manusia.

        Untuk merespon realitas ummat beragama tersebut, dalam dua dekade terakhir ini seruan tentang dialog antar-agama atau antar-iman (inter-faith dialogue) amat intens dikampanyekan, bukan hanya untuk sekedar menjembatani titik temu dan titik beda dari masing-masing agama, tetapi juga adanya tawaran kultural yang produktif dan konskruktif untuk melakukan pengembaraan intelektual dan spiritual memasuki pelataran agama lain. Bahkan mendialogkan hal-hal yang masuk dalam zona sakral dari doktrin agama masing-masing. Meski demikian, seruan dialog tersebut masih melahirkan pro (karena hal itu merupakan keniscayaan historis) dan kontra (karena dikuatirkanakan dapat melemahkan iman serta wibawa doktrin agama masing-masing).

        Seseorang atau skelompok orang yang memiliki spirit seperti inilah yang bersedia untuk lebih jauh memikirkan sesuatu yang tak terpikirkan (unthinkable things) oleh mainstream kaum agama selama ini, sehingga sangat dimaklumi jika buah pikirnya akan disambut PRO dan KONTRA.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar