Selasa, 03 September 2013

ASAL-USUL ISTILAH "TU[H]AN"

Istilah atau kata “Tu[h]an” mempunyai sejarah yang unik. Kata “Tu[h]an”  sesungguhnya tidak ada dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Melayu yang merupakan asal dari bahasa Indonesia. Lantas, dari manakah kata “Tu[h]an”  ini berasal ?

Ellen Kristi dalam bukunya “ Yesus Kristus bukan Allah tapi Tu[h]an”  menguraikan dengan jelas asal-usul dari kata  Tu[h]an ini. Ellen Kristi mengutip dari ulasan Remy Sylado, seorang ahli bahasa Indonesia tentang sejarah lahirnya istilah Tu[h]an. Singkat cerita, Remy Sylado menyatakan bahwa kata Tu[h]an berasal dari kata “Tuan”.

Remy Sylado menyatakan bahwa dalam Kitab Suci Melayu terrjemahan Daniel Brouwerius tahun 1668 Masehi, kata Yunani “Kurios” gelar bagi Yesus Kristus (Isa Al-Masih) masih diterjemahkan “Tuan”. Berhubung terjemahan Brouwerius ini sulit dipahami karena benyak menggunakan kata serapan dari bahasa Prancis, VOC menyuruh pendeta Melchior Leijdecker menerjemahkan ulang seluruh Al-Kitab. Pada terjemahan Leijdecker inilah kita temukan perubahan harafiah dari “Tuan” menjadi “Tu[h]an” untuk padanan kata “Adon” atau “Kurios”

Kemungkinan besar, perubahan ini dilakukan atas dasar pertimbangan  teologis Katolik Roma yang memfigurkan Yesus sebagai “tuan” yang ilahiah, untuk membedakan “tuan “ yang manusiawi. Tetapi sesungguhnya, kata Tu[h]an maknanya tidak dapat dilepaskan dengan makna “tuan” yaitu yang memerintah, yang menjadi raja, yang mengendalikan, tuan atau majikan, yang menjadi pemilik dan yang dihormati. Tetapi karena orang tidak mengetahui sejarah perubahan ini, maka kata Tu[h]an menjadi sesuatu yang “melangit” dan tidak bermakna praktis bagi manusia. Artinya adalah,   mereka tidak sadar bahwa makna praktisnya adalah “Tuan” yaitu sesuatu yang harus memerintah atau berrkuasa, raja, pengendali, tuan atau majikan yang harus ditaati dan dipatuhi oleh manusia sebagai “budak” atau “hamba” dari Tuan-nya itu.

Apa yang disebut “bahasa” adalah sesuatu  “perjanjian” antar manusia, artinya, kata “tuan” dapat diganti menjadi “tukan”, “tupan” “tugan”, dan lain sebagainya, asalkan perubahan itu tidak menyimpang dari kata atau makna aslinya, yaitu “tuan” dengan seluruh batasan maknanya. Apapun alasannya yang jelas pendeta Melchior Leijdecker telah berhasil merubah Yesus dari “tuan “ yang manusiawi menjadi Tu[h]an adalah murni milik ciptaan pendeta Kaolik Roma untuk memenuhi debutuhan teologisnya

Tetapi, dalam perkembangannya pergantian kata”tuan” dengan menyelipkan huruf ”h”diantara “tu” dan “an” pengaruhnya sangar bersar dan sangat menyimpang jauh dari makna aslinya. Penyimpangan itu adalah kata Tu[h]an, hanya diapahami secara teologis-agamis, yaitu: Penguasa dilangit, Raja di sorga, raja di akhirat yang harus disembah dengan berbagai bentuk ritus (sembahyang), Roh yang ada di hati dan lain sebagainya. Sedangkan pengertian “tuan” adalah raja didunia, pengusa, pemerintah negara, pengendali pemerintahan, tuan atau majikan rakyat yang secara praktis harus dipatuhi, ditaati hukum dan perintahnya oleh manusia.

Jadi, menurut paham agamis model Paulus ini, Allah itu adalah Tu[h]an yang adalah tuan dilangit dan di akhirat kelak sedang Kaisar itu adalah “tuan” di bumi. Kedua-duanya harus ditaaati pada “dunianya” masing-masing.

Dengan demikian, manusia menurut teologi Kristen dan juga paham agamis orang Islam, harus taat kepada dua obyek ketaatan, kepatuham, kekuasaan, raja, kerajaan, pengabdian dan sebagainya, yaitu kepada  Tu[h]an yang berada dilangit (kerajaan Sorga) dan yang kedua: ketaatan, kepatuhan kepada kerajaan dunia (negara), hukum manusia dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara dibumi ini. Dengan demikian, scara tidak sadar seorang terjebak kedalam ajaran Paulus. Menurut ajaran Paulus, kematian Yesus di tiang salib adalah suatu bentuk perdamaian Allah pada manusia. Apa yang disebut “Hukum Taurat”  hanyalah untuk manusia yang berdosa karena dosa Adam. Dengan penebusan Tu[h]an mati di tiang salib, berati “Hukum Taurat” sudah tidak diperlukan lagi. Dosa itu ada karena Hukum Taurat, maka ketika Hukum Taurat itu dihapus melalui penebusan Yesus, di dunia ini tidak ada lagi istilah “dosa” karena semua sudah “ditanggung” oleh Yesus. Paulus mengajarkan bahwa Allah sudah tidak lagi memiliki kerajaan dimuka bumi ini seperti kerajaan Musa, Daud, salomo. Kerajaan Allah (YAHWEH) berada dilangit (sorga) dan nanti di akhir zaman sejarah manusia, Yesus sebagai Tu[h]an akan turun kembali kebumi untuk menghukum orang-orang yang tidak percaya akan peristiwa “pembebasan dosa manusia” di tiang salib. Sejak kenaikan Yesus ke sorga, hamba-hamba Tu(h)an khususnya dan manusia pada umumnya harus menganggap bahwa kerajaan atau kekuasaan apapun bentuknya adalah tidak ada yang tidak berasal dari Allah. Oleh sebab itu, melawan pemerintah atau kekuasaan yang ada berarti melawan ketetapan Allah, walaupun yang memerintah atau yang berkuasa itu adalah penguasa atheis, komunis dan penguasa-penguasa yang sewenang-wenang.

Hamba-hamba Tu(h)an harus taat kepada “Tuan”nya dibumi yang adalah kaisar, setulus ketaatannya kepada Tu(h)an di gereja (Roma 13). Ajaran semacam ini menafikan sifat Allah sebagai “Tuan” Yang Maha Kuasa, karena Allah tidak menjadi “Tuan”nya manusia dalam kehidupan sehari-hari. Allah atau YHWH hanya berkuasa di gereja atau di tempat ibadat, sedang diluar pagar gereja adalah kekuasaan Kaisar.

Kemungkinan dari paham Paulus yang seperti ini ada aliran dalam budaya ummat Islam yang menyatakan bahwa: Hidup di bawah kekuasaan Raja yang zalim (tidak adil) seratus tahun lebih baik daripada kekacauan selama satu hari akibat usaha untuk merubahnya.

Otentiknya ajaran Paulus itu kita kutip demikian :

Setiap orang haruslah taat kepada pemerintah, sebab tidak ada pemerintah yang tidak mendapat kekuasaannya dari Allah. Dan pemerintah yang ada sekarang ini, menjalankan kekuasaannya atas perintah dari Allah. Itu sebabnya orang yang menentang pemerintah sama saja dengan menentang apa yang telah ditentukan oleh Allah. Dan orang yang berbuat begitu akan menerima hukuman. Sebab, orang yang berbuat baik tidak usah takut kepada pemerintah. Hanya orang yang berbuat jahat saja yang harus takut. Kalau Saudara ingin supaya Saudara tidak merasa takut terhadap pemerintah, Saudara harus berbuat baik, maka Saudara akan dipuji. (Roma 13 : 1-3)

Seorang murid Yesus yang sejati menentang keras ajaran Paulus ini karena sangat bertentangan dengan ajaran Yesus semasa hidupnya, dan tidak ada satupun nabi-nabi keturunan Abraham yang berpaham seperti ini. Dari ajaran yang seperti inilah lahirnya agama Katolik Romawi sampai hari ini, dan dari ajaran yang seperti ini pula lahirnya paham sekularisme, yaitu paham yang memisahkan antara agama dan negara yang hari ini dianut oleh semua agama; Kristen maupun Islam. Dalam hal ini, teringatlah kita kepada pernyataan Allah di dalam Al-Qur’an :

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. Al-Baqarah : 120)

Melihat ayat ini, sesungguhnya orang Yhudi dan Kristen tidak usah lagi berusaha untuk membuat program kristenisasi terhadap ummat yang katanya beragama Islam,karena secara tidak sadar sebagian besar cara mereka beragama telah menggenapi ayat Al-Qur’an Surat Al-baqarah : 120 tersebut diatas. Benarlah Allah dengan segala Firman-Nya.

Kembali kepada masalah Yesus yang dikatakan mengaku sebagai Tu(h)an, dikarenakan ada pernyataan yang demikian –yang diriwayatkan oleh penulis Injil Yohanes, Tu(h)an, Allah mempertanyakan masalah ini kepada Yesus. Terhadap masalah ini, Yesus dengan tegas menolak pernyataan  itu. Dengan demikian, Pernyataan Injil Yohanes tentang pengakuan Yesus sebagai Tu(h)an adalah dusta atau salah tafsir. Pernyataan atau doktrin Yesus sebagai Tua(h)an bukan dari golongan Yehuda maupun Israel, tetapi doktrin itu berkembang dikalangan non Israel, terutama di kalangan orang-orang Yunani yang gemar memfigurkan seorang pahlawan sebagai Dewa Tu(h)an.

Yesus melanjutkan penolakannya terhadap tuduhan dirinya mengaku sebagai Tu(h)an sebagai berikut:

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.  (QS, Al-Maidah : 117-118)


Bukti bahwa Yesus tidak pernah mengaku dirinya Tu(h)an dan orang harus menyembah dan taat kepadanya secara pribadi, dapat kita lihat di dalam suatu pernyataan sebagai berikut;

Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku." (Yohanes 12 : 49-50)


Tidak cukupkah bukti bukti tertulis ini untuk menjadi hakim bahwa ajaran paulus, simon Petrus dan Gereja Ortodoks Katolik Roma adalah ajaran berhala Yunani dang dikemas atas nama Yesus, Isa Al-Masih ? !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar